Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Ketika Diskusi Jadi Ajang Saling Sikut di Dunia Maya

 


Kadang aku termangu sendiri melihat betapa mudahnya orang beralih dari berdiskusi ke menyerang, dari kritik menjadi cacian, dari debat menjadi “adudomba” kecil di kolom komentar. Aku resah: mereka memakai meme, potongan gambar, video—alat-alat visual yang sering dipelintir atau dikonfigurasi sedemikian rupa—untuk mensisihkan orang lain. Tapi begitu ditegur, terutama dengan model serupa, mereka mencak-mencak, merasa disakiti, merasa difitnah, seperti hanya mereka saja yang boleh berbicara. Tanpa sadar, aku mulai menyadari ada cacat berpikir yang lebih dasar: kemampuan logika kritis yang timpang, empati yang hilang, serta rasa tanggung jawab yang tercecer di antara deretan username anonim.

Data yang Membuatku Merenung

  • Berdasarkan laporan IndoToxic2024, Indonesia mengalami peningkatan sepuluh kali lipat dalam rasio ujaran kebencian (hate speech) online dalam dua tahun terakhir, dengan 43.692 contoh teks kebencian dikumpulkan, terutama menjelang Pemilu. arXiv
  • Studi Monash University & AJII (Data & Democracy Research Hub) yang membandingkan konten media sosial dari September 2023 hingga Januari 2024 menemukan bahwa dari 1,45 juta posting di berbagai platform, sekitar 200.000 posting (13,8%) mengandung unsur hate speech. Monash University
  • Penelitian “Online Hate Speech Expressions in Local Languages in Indonesia” menunjukkan bahwa sekitar 67% pengguna media sosial di 38 provinsi mengaku paling sering menjumpai konten ujaran kebencian dibandingkan jenis konten ilegal lainnya. Engelbertus Wendratama

Data ini menegaskan bahwa fenomena bukan hanya sesekali—melainkan sudah menjadi pola sistemik dalam komunikasi digital kita.

 

Pendapat Tokoh & Kaidah Adab yang Hilang

Aku berpikir tentang apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh Islam seperti Imam Al-Nawawi. Dalam karya-nya, beliau menekankan pentingnya adab dalam pendidikan dan dalam pergaulan, termasuk bagaimana seseorang berbicara: tidak menyakiti, menjaga kemurnian niat, menggunakan bahasa yang etis, tidak menjeneralisir, dan memajukan manfaat serta menghindari mudarat (“mukmin itu cermin mukmin yang lain”, dll.). rel.ojs.co.id

Demikian juga Muhammad Sayyid Tantawi dalam Adab Hiwar fi al-Islam, menguraikan sebelas kaidah berdialog: kejujuran, penggunaan logika sehat, etika kesantunan, menghindari kezaliman, fokus pada tema, toleransi terhadap perbedaan pendapat, dsb. Markas Jurnal STAI Al Hidayah Bogor

 

Kesimpulan: Menanggi Tanpa Dalil Agama? Bisa

Dari pengamatan dan data, aku percaya bahwa kita tidak perlu terus belajar dalil agama untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara banyak orang berdiskusi online. Kadang cacat berpikir itu sudah tampak jelas:

  • Argumentum ad hominem sering muncul: menyerang pribadi bukan argumen.
  • Generalizing & stereotyping: satu kesalahan, langsung digeneralisir ke semua orang “manhaj itu”, “orang itu semuanya …”.
  • Anonimitas & efek online disinhibition: orang merasa bebas mengatakan hal yang tidak akan mereka ucapkan tatkala bertatap muka.
  • Kekurangan empati: tidak mempertimbangkan bahwa kalimat yang dilempar bisa menyakiti, menimbulkan trauma, atau setidaknya berdampak buruk secara psikologis.

Menanggi mereka — yaitu mengkritik dengan halus, menunjukkan ironi, atau mempertanyakan logika — tidak harus berlandaskan dalil agama. Logika sehat, adab manusia yang universal, dan empati adalah cukup. Kalau kita mampu berkata: “apa argumenmu?”, “apakah kamu mempertimbangkan keadaan orang lain?”, “apakah ini benar-benar tentang kebenaran atau tentang merasa paling benar?”, itu sudah sebuah langkah.

Post a Comment

0 Comments