Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kita Tidak Tahu Besok — dan Itu Menakutkan



Coba jujur sebentar.

Pernahkah kamu tiba-tiba diam di tengah hari yang biasa, lalu pikiranmu pergi ke tempat yang tidak kamu undang? Ke pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya — tentang besok, tentang setahun lagi, tentang apakah semua yang sedang kamu lakukan ini benar-benar akan sampai di suatu tempat yang baik.

Kalau pernah — ya, saya juga.

Dan sore ini, di bawah atap asbes dengan suara jalanan kabupaten yang masuk dari celah mana saja, saya memutuskan untuk tidak kabur dari pikiran itu. Mari kita duduk sebentar di sini, bareng-bareng, dan lihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

· · ·

Pertama — mari kita akui sesuatu yang sering kita pura-pura tidak rasakan.

Masa depan itu menakutkan. Bukan karena ia penuh dengan hal buruk. Tapi karena ia kosong. Tidak ada bayangan yang cukup jelas di sana. Dan otak kita, yang terbiasa bekerja dengan pola dan kepastian, sangat tidak nyaman dengan kekosongan itu.

Maka kita isi sendiri. Kita bayangkan skenario terburuk. Kita kalkulasi kemungkinan gagal. Kita timbang-timbang keputusan yang bahkan belum perlu dibuat hari ini. Kita bilang ini "antisipasi" — padahal seringkali ini cuma kecemasan yang memakai baju lebih rapi.

Overthinking bukan tanda bahwa kamu lemah. Itu tanda bahwa kamu peduli — terlalu peduli, pada sesuatu yang belum bisa kamu sentuh.

Dan di situlah masalahnya. Kita mencurahkan energi yang nyata untuk sesuatu yang masih berupa bayangan. Kita kelelahan sebelum perjalanannya bahkan dimulai.

· · ·

Tapi mari kita masuk satu langkah lebih dalam — karena saya rasa kita belum sampai ke akar masalahnya.

Apa sebenarnya yang paling menakutkan dari masa depan?

Bukan kejadian buruknya. Bukan kegagalannya. Kalau dipikir jujur — yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa semua ikhtiar kita tidak akan cukup. Bahwa kita sudah berusaha keras, sudah merencanakan dengan baik, sudah menjaga semua yang bisa dijaga — dan tetap saja hasilnya tidak sesuai.

Itu yang benar-benar bikin dada sesak, kan?

Bukan sekadar takut gagal. Tapi takut sudah berjuang sungguh-sungguh, tetap gagal, dan tidak tahu harus ke mana membawa rasa kecewa itu.

· · ·

Di sinilah saya ingin berhenti sebentar.

Kita sering memandang masa depan seperti ujian. Ada jawaban benar, ada yang salah. Ada yang lulus, ada yang tidak. Dan tugas kita adalah menebak jawaban yang benar itu — sebelum ujiannya dimulai.

Tapi bagaimana kalau cara pandang itu sendiri yang membuat kita lelah?

Bagaimana kalau masa depan bukan ujian yang harus dijawab dengan tepat — tapi percakapan yang kita masuki, kita respons, kita bentuk pelan-pelan bersama keadaan? Tidak ada jawaban tunggal yang harus ditemukan dari awal. Yang ada hanyalah langkah berikutnya — dan apa yang kita pilih untuk lakukan setelah langkah itu.

Kita bukan sedang berjalan menuju satu titik yang sudah ditentukan. Kita sedang membuat jalannya — sambil jalan.

· · ·

Dan di sinilah — setelah semua kegelisahan ini — saya akhirnya tiba pada sesuatu yang dulu sering saya anggap terlalu sederhana untuk masalah yang terasa serumit ini.

Tawakkal.

Bukan tawakkal yang naif. Bukan yang bilang "sudahlah, serahkan saja semuanya" lalu duduk menunggu langit menurunkan jawaban. Tawakkal yang itu justru terasa seperti pelarian — dan kita sama-sama tahu, pelarian tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun.

Yang saya maksud adalah tawakkal yang jujur. Yang datang setelah kita benar-benar berusaha — setelah kita berpikir, merencanakan, dan melangkah sebaik yang kita bisa. Baru kemudian kita berserah. Bukan karena kita menyerah, tapi karena kita sadar: ada bagian dari hidup ini yang memang bukan di tangan kita.

Dan mengakui itu bukan kelemahan. Justru sebaliknya — itu butuh keberanian yang tidak kecil.

Tawakkal bukan berarti berhenti berjuang. Itu berarti berjuang sepenuhnya — lalu melepaskan hasilnya dengan tangan terbuka.

Ketidakpastian tidak akan hilang setelah ini. Rasa takut itu mungkin juga tidak. Tapi kita tidak harus menyelesaikan keduanya dulu sebelum mulai melangkah.

Kita cukup melakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Sebaik yang kita mampu. Lalu sisanya — kita percayakan.

Bukan menyerah. Tapi berserah.

Dan ada perbedaan besar di antara keduanya.

Post a Comment

0 Comments